Wednesday, December 19, 2012

ASMAT CULTURAL FEAST 2011 / PESTA BUDAYA ASMAT 2011


DISTRICT ASMAT 2011 AGATS - KABUPATEN ASMAT 2011

Asmat regency is one of 20 County District Expansion in Papua, Asmat is famous for its unique art and culture without carving designs on paper and has a world-renowned cultural distinctiveness for domestic and foreign tourists to visit Indonesia region. Support Asmat Cultural Festival is an arts and cultural activities featuring a variety of Papuan cultural attractions of several districts in Papua, where the festival will be a mainstay tourist attractions to attract tourists. Along with the growth of new district division (Asmat) is the effect of development in all sectors with an emphasis on sustainable development in all fields, especially the tourism priorities in order to realize the quality of local human resources are so far behind. The festival is held in support of the Government to increase tourist visits to Indonesia through the "Wonderfull Indonesia" and domestic tourism promotion program through the "Know your loved your country," and make the Asmat as a tourist destination popular special interest in the Pacific region.


Kabupaten Asmat merupakan salah satu Kabupaten Pemekaran dari 20 Kabupaten di Provinsi Papua, Asmat terkenal dengan keunikan seni dan budaya mengukir tanpa desain diatas kertas dan memiliki kekhasan budaya terkenal di dunia bagi wisatwan domestic maupun manca negara untuk berkunjung ke Indonesia kawasan Timur. Dukungan Festival Budaya Asmat merupakan kegiatan seni dan budaya Papua yang menampilkan beragam atraksi budaya dari beberapa Kabupaten di Papua, dimana festival ini akan menjadi atraksi pariwisata andalan untuk menarik minat kunjungan wisatawan. Seiring dengan pertumbuhan pemekaran Kabupaten baru (Asmat) merupakan pengaruh pembangunan pada semua sektor dengan penekanan pada pembangunan yang berkelanjutan disemua bidang khususnya pariwisata yang prioritas guna mewujudkan kualitas sumber daya manusia setempat yang sangat tertinggal. Festival ini diadakan dalam rangka mendukung Pemerintah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Indonesia melalui program “Wonderfull Indonesia” dan program promosi pariwisata dalam negeri melalui “Kenali Negerimu Cintai Negerimu” serta menjadikan Asmat sebagai salah satu daerah tujuan wisata minat khusus yang popular dikawasan pasifik.

Asmat Cultural Festival will be held from 20-25 October 2011 in the district of Asmat Papua fees. "Different different but still one also, that Indonesia". State of Indonesia consists of many tribes and cultures, one of which is the Asmat, tribes who inhabit eastern Indonesia (Papua). Asmat is a tribe in Papua. Asmat wood carvings known as a unique result. Asmat population is divided into two, namely those living in coastal areas and those living in the hinterland. Both of these populations differ from each other in terms of way of life, social structure, and ritual. Coastal populations further divided into two parts: Spare Bisman located between the river and the river Sinesty Nin and Spare Simai.

Festival Budaya Asmat akan diselenggarakan pada tanggal 20-25 Oktober 2011 di Kabupaten Asmat Provisi Papua. “Berbeda beda tetapi tetap satu jua, itulah Indonesia”. Negara Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya, salah satunya adalah Suku Asmat, suku yang mendiami wilayah timur Indonesia (Papua). Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal cara hidup, struktur sosial, dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu Suku Bisman yang berada di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin serta Suku Simai.


Usually in a village inhabited by about 100 to 1000 people. Every village has one bachelor house and many family homes. The house used to flunky ceremonial and religious ceremonies. The family home occupied by two or three families, which has its own bathroom and kitchen. Besides culture, the Asmat also very good at making carvings. Asmat carvings to be a link between the present life with the life of their ancestors. In each dwelling carved image and recognition of their ancestors that is loaded with greatness Asmat. Asmat has a very simple way to apply them. They just need a red ground to produce the red color, to produce their white color made ​​of shells that have been crushed, while the black color of charcoal they produce are mashed. How to use is quite simple, simply by mixing it with a little water, the dye that was to be used to color the body. Asmat.

Biasanya dalam satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. Setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Selain budaya, penduduk Asmat juga amat piawai membuat ukiran. Ukiran bagi Suku Asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. Di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran Suku Asmat. Suku Asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. Mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah, untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan, sedangkan warna hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunakan untuk mewarnai tubuh. Suku Asmat.

Sculptures and carvings are generally those created without sketches. For Asmat, when sculpture is one in which they communicate with the ancestors who exist in another world. This is possible because they know the three concepts of the world: Amat ow capinmi (natural life now), Dampu ow campinmi (pesinggahan nature spirits of the dead), and Safar (heaven). This tribe believes that before entering heaven, the spirits of the dead would interfere with humans. Interference can be a disease, disaster, and even war. So, to save mankind and redeem souls, those who are still alive to make sculptures and statues held a party as a party bus (Bioskokombi), party masks, party boats, and sago worm feast.

Patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. Bagi Suku Asmat, di saat mengukir patung adalah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yang ada di alam lain. Hal itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana, bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat-ulat sagu.

It is said that the statue statues bus is the most sacred form. But now for the Asmat sculpture is not just the call of tradition, because the results are also engraving that they sell to strangers while carving party. They know the results of hand-carved high valued between $ 100 thousand to millions of dollars outside Papua. In Asmat life, we see a stone in the street turned out to be very valuable to them. In fact, the stones can be used as a dowry. All of that is because the shelter Asmat forming marshes that are very difficult to find stones street which is very useful for them to make axes, hammers, and so on. The work typical Asmat woodcarving is one of the national cultural wealth that already has a name for the foreign tourists. Characteristics of Asmat carvings have unique patterns and naturalist. Of these patterns were seen hassle how to make it so that makes them valuable carving work and pretty much in demand by foreign tourists. In terms of the model, Asmat carving is very diverse, ranging from human statues, boats, panels, shields, drums, eggs Kaswari, to carving the pole. Asmat usually adopt the experience and environment of everyday life as they are carving patterns, such as trees, boats, animals, people boating, and others.

Konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. Namun kini membuat patung bagi Suku Asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi, sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. Mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah di luar Papua. Dalam kehidupan Suku Asmat, batu yang biasa kita lihat di jalanan ternyata sangat berharga bagi mereka. Bahkan, batu-batu itu bisa dijadikan sebagai mas kawin. Semua itu disebabkan karena tempat tinggal Suku Asmat yang membentuk rawa-rawa sehingga sangat sulit menemukan batu-batu jalanan yang sangat berguna bagi mereka untuk membuat kapak, palu, dan sebagainya. Karya ukir kayu khas Suku Asmat adalah salah satu kekayaan budaya nasional yang sudah memiliki nama bagi para turis asing. Karakteristik ukiran Suku Asmat mempunyai pola yang unik dan bersifat naturalis. Dari pola-pola itu terlihat kerumitan cara membuatnya sehingga membuat karya ukir mereka bernilai tinggi dan cukup banyak diminati para turis asing. Dari segi model, ukiran Suku Asmat sangat beragam, mulai dari patung manusia, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari, sampai ukiran tiang. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka, seperti pohon, perahu, binatang, orang berperahu, dan lain-lain.


Asmat community consists of 12 sub-ethnic groups, and each has a characteristic of his art. So is the wood used, there are also differences. There is a prominent ethnic sub carving statue, there is a prominent engraving Salawaku or shields, others have carved on the wall and war equipment. The most special and unique is that every piece of sculpture does not have the same or a duplicate because they do not produce the same pattern carving on a large scale. So, if we have one of the Asmat carving a pattern, it is only there because of the Asmat people do not make the same pattern in the carvings. Be the same shape, such as a shield or panel, but the matter would have been different patterns. That is the uniqueness of the Asmat carvings. Know Asmat is a vehicle for wealth separate the culture of Indonesia. Asmat is one of Indonesia's cultural icon who became its own value to be developed into a tourist paradise in eastern Indonesia. Asmat has diverse cultures and outstanding performance art. Every tourist who comes to the Asmat region must be presented with a natural phenomenon that blends with the natural environment which is still a virgin. What an adventure that is hard to forget. Source: http://ksupointer.com/2009/suku-asmat-sosok-budaya-indonesia-di-papua Asmat regency was established in 2002 by virtue of the Law. 26 Year 2002 on Establishment of Asmat district, the district capital is Agats. The geographical position of Asmat district at 4-7 south latitude (LS) and 137-141 East longitude (BT)

Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub etnis, dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. Begitu juga dengan kayu yang digunakan, ada juga perbedaannya. Ada sub etnis yang menonjol ukiran patungnya, ada yang menonjol ukiran salawaku atau perisai, ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan dinding dan peralatan perang. Yang paling istimewa dan unik adalah bahwa setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikatnya karena mereka tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar. Jadi, kalau kita memiliki satu ukiran dari Asmat dengan pola tertentu, itu adalah satu-satunya yang ada karena orang Asmat tidak membuat pola sama dalam ukirannya. Bentuk boleh sama, misalnya perisai atau panel, tetapi soal pola pasti akan berbeda. Itulah keunikan ukiran Suku Asmat. Mengenal Suku Asmat merupakan wahana tersendiri akan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Suku Asmat merupakan salah satu ikon budaya Indonesia yang menjadi nilai tersendiri untuk dikembangkan menjadi surga pariwisata di kawasan timur Indonesia. Suku Asmat memiliki ragam budaya dan seni pertunjukan yang luar biasa. Setiap wisatawan yang datang ke wilayah Suku Asmat pastilah akan disuguhkan suatu fenomena alami yang menyatu dengan lingkungan alamnya yang masih perawan. Sungguh suatu petualangan yang sulit untuk dilupakan. Source : http://ksupointer.com/2009/suku-asmat-sosok-budaya-indonesia-di-papua Kabupaten Asmat didirikan pada tahun 2002 dengan berdasarkan pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kabupaten Asmat, dengan beribukota di Distrik Agats. Letak geografis Kabupaten Asmat pada 4-7 Lintang Selatan (LS) dan 137-141 Bujur Timur (BT)


Overall Asmat regency is divided into several areas covering seven districts, namely: Agats, Atsy, Cassowary Coast, Sawaerma, Suator, AKAT, and Fayit. Although still new stands, but in cultural Asmat district has long known to the world. Their skills in making carvings and various other cultures which is unique in the arts that has made the Asmat tribe is so well known. Asmat region directly adjacent Jayawijaya and Yahukimo in the North, and the District Mappi Arafuru Sea in the South, and Mimika Arafuru Sea on the west, and the Regency and Regency Digoel Mappi in the east.


Secara keseluruhan Kabupaten Asmat terbagi menjadi beberapa wilayah yang meliputi tujuh distrik, yaitu : Agats, Atsy, Pantai Kasuari, Sawaerma, Suator, Akat, dan Fayit. Walaupun masih baru berdiri, tetapi Kabupaten Asmat dalam hal budaya sudah lama dikenal dunia. Keterampilan mereka dalam membuat ukiran dan berbagai kebudayaan lain yang unik dalam kesenian yang telah menjadikan suku asmat begitu dikenal. Wilayah Asmat berbatasan langsung dengan Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Yahukimo di sebelah Utara, Kabupaten Mappi dan Laut Arafuru di sebelah Selatan, Kabupaten Mimika dan Laut Arafuru di sebelah Barat, serta Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi di sebelah Timur.


District which covers 23,746 km2 has a unique regional characteristics. Jayawijaya foothills seem fortify some areas that formerly belonged to the Merauke district this. On the other hand, Arafuru Sea coastline stretches Asmat. All pedestrianized area by the green tropical forest. The uniqueness of the other is Agats City area that stands on peat soils. Agats town has no roads and is built on wide plank sidewalk. To reach out to other districts, people usually use a canoe or speed boat rental cost is quite expensive. Asmat communities rely on rainwater as a water source for grocery hari.Karena territory bordering the sea and surrounded by the foothills Arafuru Jayawijaya, making Asmat district can be reached only by water and air transport only. Asmat achieve the quickest path is to use the plane. However, flights to Asmat highly dependent on weather conditions.



Kabupaten yang luasnya 23.746 km2 ini memiliki karakteristik wilayah yang unik. Kaki Pegunungan Jayawijaya tampak membentengi sebagian daerah yang dahulu termasuk wilayah kabupaten Merauke ini. Di sisi lain, Laut Arafuru terbentang sepanjang garis pantai Asmat. Semua wilayah tersebut dipayungi oleh hijaunya hutan rimba tropis. Keunikan yang lainnya adalah wilayah Kota Agats yang berdiri di atas tanah gambut. Kota Agats tidak memiliki jalan raya dan jalan dibangun di atas papan selebar trotoar. Untuk menjangkau distrik lain, masyarakat biasanya menggunakan canoe atau speed boat dengan biaya sewa yang cukup mahal. Masyarakat Asmat hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari.Karena wilayahnya yang berbatasan dengan Laut Arafuru dan dikelilingi kaki pegunungan Jayawijaya, membuat Kabupaten Asmat hanya bisa dijangkau oleh transportasi air dan udara saja. Jalur tercepat mencapai Asmat adalah dengan menggunakan pesawat. Akan tetapi penerbangan ke Asmat sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Flights to Asmat (Ewer Airport) can be reached from Merauke or Timika with Merpati Twin Otter aircraft. Arriving at the airport Ewer, proceed by sea using a speed boat about 20 minutes to Agats. Alternative paths by using a speed boat for four hours (from Timika), or by boat for 36 hours (from Merauke). Alternative route is often used by the audit team CPC examination Asmat district due to uncertainty air routes. source: google-Kemenbudpar pic by hidayat


Penerbangan ke Asmat (Bandara Ewer) dapat ditempuh dari Merauke atau Timika dengan pesawat Twin Otter Merpati. Sesampainya di Bandara Ewer, perjalanan dilanjutkan melalui laut menggunakan speed boat sekitar 20 menit ke Agats. Jalur alternatif lainnya dengan menggunakan speed boat selama empat jam (dari Timika), atau dengan kapal selama 36 jam (dari Merauke). Jalur alternatif inilah yang sering dipakai oleh tim auditor BPK yang melakukan pemeriksaan di Kabupaten Asmat karena ketidakpastian jalur udara. source : google-kemenbudpar pic by hidayatr

No comments:

Post a Comment